Stories..

Soerabaja

Surabaya,

Kota yang dipenuhi drama di sepanjang jalannya, dipenuhi warna di setiap sudut ruangnya. Iya, Surabaya, kota yang selama hampir 5 tahun ini saya menghabiskan waktu lebih banyak daripada kota kelahiran saya sendiri.

2002,

Tahun itu pertama kali kuinjakkan kaki di Surabaya, masih SD, tak banyak bergerak sana sini karena bisa dikira hilang oleh ortu. Pertama kali pula naik bis antar kota, pertama kali merasakan panas teriknya kota Surabaya. Tujuannya? Wisuda kakak pertamaku, kosannya, dan Bonbin. Hahaha dan tak terlalu paham soal si Suro dan Boyo.

31 Mei 2011,

Bukan di Surabaya, tapi awal semuanya. Untuk Surabaya, untuk 4 tahun ke depan, pertama kali bermalam di kota orang dengan semangat menggila. Jika hari itu tidak dilewati dengan baik. Semuanya akan sangat berbeda. Bukan hanya nasib saya, tapi nasib ribuan orang seperti saya.

ITS,

Kalau ini, tak cukup malam ini kuceritakan semua. Pertama kalinya merasakan bermalam di Surabaya. Awalnya memang berencana menghabiskan waktu lebih lama, tapi tak menyangka akan terlalu berkesan. Emosi, kata, pikiran, keringat, semua terasa habis di sini. Dari yang terbaik, hingga yang terburuk.

26 Mei 2012,

Teruntuk kalian yang sekarang sudah berjalan di kehidupan masing-masing, tak pernah menyangka akan menghabiskan waktu 4 tahun dengan begitu luar biasa. Salam dari “Ulo” 5211100059

Berdedikasi,

Awalnya terasa biasa saja, saya dipertemukan dengan tim yang memiliki “Kaderisasi” terbaik yang pernah saya alami hingga sekarang. Bosan dengan kata “Kaderisasi”? Saya beri “Pelajaran Hidup yang Tak Akan Pernah Dilupakan”.

2013,

Salah satu kegilaan “terparah” yang pernah saya lakukan bahkan ketika di kampus. Satu, nekat. Dua, adek. Tiga, tepar. Tidak ada niat menjelaskan. Biarlah semua menjadi kenangan. Si Gagak Pintar telah menetas.

Jaket Baru,

Tak ada yang salah ketika memilih, hanya jangan disesali berlebih. Tahun terakhir, tantangan bukan dari mereka yang di luar diri, tapi dari mereka yang ada di dalam tubuh ini.

31 Mei 2016,

Malam yang tak kusangka menjadi malam yang cukup penat hingga saya menulis ini. I love my life. I love Soerabaja. Malam di mana sangat sulit membedakan mana yang cita-cita, mana yang hanya mimpi, mana yang perintah dan mana yang hanya sekedar keinginan.

Soerabaja,

Setidaknya 2 atau 3 tahun lagi saya ingin tetap di sini. Setelahnya, biarlah nasib yang membawa, mimpi sudah terbentuk, tinggal membangunkannya. Hati sudah memilih, tinggal sudah siapkah untuk dikembalikan.

Selamat ulang tahun Soerabaja, 700 tahun kemudian lahir ketika subuh, anak dengan nama yang aneh….

Iklan
Tinggalkan komentar »

Corpse Party!!!

Bagi pembaca yang menyukai manga bergenre gore, tentu pembaca tidak akan melewatkan manga yang satu ini. Yap judulnya Corpse Party. Kalo pembaca tahu, Corpse Party pertama kali muncul sebagai sebuah video game yang kemudian di-remake dan dibuat manga, anime dan live actionnya. Kali ini, saya akan memberikan review salah satu franchise terbaru dari judul ini, yaitu Corpse Party Live Action.

Baris depan dari kiri ke kanan : Yoshiki, Ayumi, Naomi, Satoshi, Seiko

Saya akan sedikit membandingkan live action ini dengan manga dan animenya. Sebenarnya kurang “afdhol” kalau tidak memainkan versi awalnya yang berupa video game, saya sendiri baru mencoba di 5 menit awal game ini, buntu dan hilang karena virus. Semoga bisa segera memainkannya lagi.

Secara umum cerita dari Corpse Party adalah sama, mengingat awalnya berupa video game, apalagi dengan remakenya yang jauh lebih baik dengan multiple ending tidak kaget jika anime, manga dan live actionnya memiliki ending yang berbeda.

Corpse Party bercerita mengenai sekumpulan siswa dan seorang guru dari Kisaragi Academy yang membereskan kelas setelah festival sekolah. Mereka melakukan sebuah permainan bernama Sachiko Ever After (dalam bahasa jepang) dalam rangka menjaga hubungan pertemanan mereka mengingat salah satu dari mereka akan pindah sekolah. Bukannya menjadi motivasi untuk bahagia, malah yang terjadi adalah gempa bumi yang melanda tiba-tiba dan membawa mereka ke sebuah sekolah bernama Heavenly Host Elementary School.

Di Heavenly Host Elementary School ini, mereka menemukan banyak mayat dan membuat mereka tidak bisa keluar dari sana. Ada banyak roh-roh jahat yang menghantui di sekolah tersebut dengan berbagai macam latar belakang. Sudah banyak korban berjatuhan sebelum para tokoh dalam film masuk di dalamnya. Banyak mayat berserakan. Makanya namanya Corpse Party.

Para Tokoh Corpse Party Live Action

Tokoh-tokoh penting di sini adalah Satoshi, Naomi yang menyukai Satoshi, Ayumi yang memiliki ide mengenai Sachiko Ever After, Yoshiki, Yuka adik Satoshi, Mayu yang merupakan murid yang akan pindah, Seiko sahabat Naomi, Morishige sepupu Mayu dan Yu sang Guru kelas. Bersama mereka ingin mengetahui bagaimana cara keluar dari tempat itu. Namun semakin mereka berusaha. Para roh-roh jahat akan semakin gila memburu dan membunuh mereka. Roh jahat yang dianggap berkuasa di tempat ini adalah anak kecil berbaju merah.

Dalam live actionnya, film ini berdurasi kurang lebih 2 jam. Saya pribadi tidak berharap lebih mengingat saya lebih dulu membaca manga dan menonton animenya. Sehingga saya tidak terkejut apabila pendalaman masing-masing karakter kurang terasa di live actionnya.

Namun yang menjadi hal menarik di live action ini adalah bagaimana cara menciptakan suasana horor dan gore dalam bentuk nyata. Kalau saya memang jarang menonton film gore, namun Corpse Party ini cukup memberikan suasana mencekam dan ilusi-ilusi yang dirasakan karakternya. Hal ini yang tidak hilang dari live actionnya.

Saya harus membandingkan, tentu saja manga akan jauh lebih detil penjabaran ceritanya dibandingkan dengan anime dan live actionnya. Masing-masing tokoh dalam Corpse Party mempunyai karakter dan perubahannya selama dalam kondisi mencekam di Heavenly Host. Naomi yang mudah tertekan, Satoshi yang tidak terlalu bisa diandalkan dan Ayumi yang memiliki kemampuan supernatural. Nah, di live action ini, mereka seperti kehilangan karakternya.

Ayumi, karakter yang menjadi favorit saya di anime dan manganya

Sangat sulit memang menuangkan game ke dalam sebuah film dan saya rasa live action ini mengambil salah satu ending di game-nya karena berbeda dari anime dan manganya. Ayumi yang seharusnya menjadi tokoh penting di manga dan animenya, tapi malah menjadi orang yang cukup menyebalkan di live actionnya, Yuka yang seharusnya memberikan peran penting menjadi tidak terlalu penting karena tokoh lain yang berhubungan dengannya di manga dan anime tidak dimunculkan di live actionnya.

Apalagi masalah cerita, jika saya tidak membaca manganya pun akan banyak hal-hal yang mengganjal. Misterinya menjadi terlalu sederhana dan penyelesainnya cukup simpel. Meskipun ada twist yang cukup menarik. Sedikit spoiler dengan endingnya, adegan terakhirnya hampir sama dengan di animenya. Sangat disayangkan.

Kesimpulannya, live action Corpse Party ini sebenarnya cukup menyenangkan bila ditonton, namun saya sarankan untuk tidak menonton animenya terlebih dahulu karena akan banyak kesamaan. Tapi secara keseluruhan saya suka karena sudah terlanjur senang dengan franchise ini.

Mungkin di kesempatan lain saya akan mengulas mengenai anime dan manganya. Walau keduanya terbit jauh sebelum live actionnya hadir. Semoga bermanfaat 🙂

Tinggalkan komentar »

The “Odd” Boy

Odd, mungkin itu yang membuat saya bisa menjelaskan keseluruhan dari film ini. The Boy, film yang tayang januari lalu menjadi sedikit bahan perbincangan di dunia maya karena genre-nya yang horor dan mengangkat boneka sebagai fokus utamanya. Tentu masih ingat bahwa beberapa waktu sebelumnya kita “bertemu” dengan boneka bernama Annabelle yang ramai akibat film The Conjuring yang bahkan diikuti film solonya Annabelle. Namun kali ini bonekanya adalah boneka laki-laki bernama Brahms.

The Boy Poster

Dalam review kali ini, saya akan mencoba memberikan gambaran mengenai The Boy. Saya akan berusaha memberikan spoiler seminim mungkin agar pembaca masih bisa mengikuti filmnya sendiri.

This is Brahms, Nice to meet you!

Film The Boy ini mengisahkan seorang wanita muda bernama Greta yang diperankan oleh Lauren Cohan (pasti familiar bagi kalian yang suka menonton serial The Walking Dead) yang disewa untuk menjaga seorang anak laki-laki dari keluarga Heelshire bernama Brahms. Tentu saja pada awalnya Greta tidak menyadari bahwa anak laki-laki yang dia rawat hanyalah boneka, dan ketika Mr. dan Mrs. Heelshire menunjukkan Brahms yang sebuah boneka Greta speechless dan mencoba untuk mengikuti apa yang ditugaskan kepadanya.

This is Greta

Mr. dan Mrs. Heelshire menyewa Greta ketika mereka hendak pergi berlibur selama beberapa bulan. Setelah mereka pergi, Greta menganggap ini adalah pekerjaan yang aneh sehingga dia memilih untuk tidak mengerjakan tugasnya kepada boneka. Di sinilah cerita sebenarnya dimulai.

Selain Greta ada pula tokoh lain yakni Malcolm yang diperankan Rupert Evans (masih ingat dengan agen FBI di Hellboy?). Dia merupakan pembawa persediaan makanan kepada keluarga Heelshire, dia juga yang memberikan gaji kepada Greta selama Mr. dan Mrs. Heelshire pergi. Selain itu ada Cole, mantan kekasih Greta yang memberikan masa lalu yang buruk baginya.

Seperti film-film horor lainnya, The Boy menyuguhkan beberapa adegan mengagetkan yang menurut saya cukup berhasil membuat kaget. Para pemainnya juga cukup berhasil memberikan suasana horor bagi penonton. Terutama gejolak dan perubahan emosi Greta ketika dia menyadari bahwa Brahms akan berlaku baik jika Greta berlaku baik kepadanya. Ini menjadi salah satu nilai plus dari segi pemainnya.

Dari segi cerita, sebenarnya saya agak ragu konsep boneka menjadi sesuatu yang berhasil setelah Annabelle. Melihat bagaimana film ini diarahkan, saya di awal sudah bisa menebak bagaimana film ini akan berakhir. Menganggap gila keluarga Heelshire, diganggu, sadar akan kesalahan kemudian mencoba menuntaskan masalah dengan si boneka. Itulah yang saya pikirkan sejak awal soal Greta dan tokoh-tokoh di dalamnya.

Namun semua berubah dengan satu adegan. Saya mencoba untuk tidak memberikan spoiler. Ya, film ini memberikan plot twist yang sangat tidak terduga. Karena inilah yang membuat saya menganggap film ini “Odd” atau aneh. Bagaimana tidak? Saya merasa tertipu dengan beberapa adegan di awal di mana Brahms mengganggu Greta dengan mencuri barang-barangnya. Serta keterangan Malcolm mengenai Brahms. Semua begitu pas jika dilanjutkan dengan hal-hal yang biasa dilakukan di film horor lainnya.

Yah tapi memang The Boy ini berbeda, saya pribadi dengan “tipuan” ini cenderung ke arah negatif karena berasa semakin standar di akhir. Adegan kejar-kejaran dan adegan nggantung standar film lainnya. Ya karena plot twist yang sangat menganggu tadi.

Kesimpulannya, ini film yang memang tidak biasa. Pasti banyak perbedaan pandangan mengenai plot twist yang diberikan. Namun pembangunan karakter Greta saya rasa cukup baik. Namun dengan pembawaan suasana serta misteri-misteri yang diberikan terasa aneh. Masi sebel rasanya ketika si Brahms dianggap jadi pacar Annabelle, Annabelle berhak yang mendapatkan lebih baik, hahaha

 

Tinggalkan komentar »

Edisi 17 Agustus

Hmmmm… Tak banyak yang biasa saya lakukan pada momen momen 17an selain nonton upacara bendera di Istana Negara melalui TV Nasional. Beda dengan sebelumnya, momen 17 Agustus ini biasanya kental akan hal hal berbau lomba lomba, renungan, diskusi atau semacamnya. Mungkin ada sih, cuman justru bukan itu yang diingat. Haha

Sepekan yang lalu saya dan beberapa teman teman saya berkesempatan untuk membantu proses verifikasi biodata para calon penerima beasiswa bidik misi di kampus saya. Bagi kalian yang belum tau, bidik misi merupakan bantuan pemerintah kepada mahasiswa yang kurang mampu yang berkeinginan untuk melanjutkan kuliah. Bantuan ini berupa pembayaran SPP/UKT plus uang saku. Ya saya bukan penerima bidik misi juga sih, tapi banyak juga teman teman saya yang beruntung mendapatkannya.

Nah, balik lagi. Sepekan yang lalu saya membantu di bagian memasukkan data kertas ke dalam format tabel yang disediakan pihak kampus. Pada saat itu verifikasi dilakukan pada calon penerima di program diploma III. Total calon ada sekitar 100an anak. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Waktu itu saya hanya kebagian mereka yang lolos verifikasi pertama oleh verifikator yang merupakan kaprodi atau yang mewakili.

Beberapa memang menarik, bahkan ada yang membuat saya terharu, ada seorang yang yatim piatu yang dibiayai kakaknya, ada juga yang kurang beruntung ketika ayahnya yang mengabdi begitu lama namun tidak segera mendapatkan kelayakan yang bahkan didukung tempat ayahnya bekerja. Ada pula yang trauma, karena dia telah ditolak lamaran bidik misinya pada program sebelumnya, hingga dia memilih jalur reguler namun diterima di jalur bidik misi, rumit ya? Ada pula yang ayahnya baru meninggal, dia melamar bidik misi tanpa sepengetahuan Ibunya dengan niat ingin membantu ibunya. Namun akhirnya dia menyerahkan untuk pindah ke jalur reguler setelah diskusi panjang dengan ibunya.

Tak hanya dari mereka yang lebih muda dari saya. Bapak bapak dan Ibu verifikator pun punya cerita, mulai dari seorang ibu verifikator yang gak tegaan, sampai sampai meminta pelamar untuk menunggu dulu hingga ibunya bisa Memberikan Keputusan, ada pula bapak verifikafor yang langsung menyerang dengan pertanyaan “Kamu miskin?” yang Tentu saja membuat saya kaget, Apalagi si pelamar. Ada pula masa masa ketika pelamar yang datang banyak tapi verifikator hanya satu, ada pula 2 verifikator tapi pelamar yang datang sedikit. Tambahan lagi, pas kosong bapak bapak suka cerita soal kehidupan kuliah baik selama beliau kuliah bahkan selama jadi dosen, sempet juga cerita pengalaman soal keluarga, iya KELUARGA (biasanya menjadi masa galau mahasiswa tingkat akhir setelah galau skripsi atau cari kerja)

Setidaknya ada hampir 40an anak yang lolos menjadi calon penerima bidik misi namun kuota yang tersisahanya 20an akibat pemotongan kuota dari pusat. Rasanya beda memang, karena saya orang terakhir dari proses tersebut yang “ngobrol” dengan para calon penerima.

Di hari kemerdekaan ini sebenarnya agak gak nyambung juga saya bahas ini, haha, tapi momen ini justru saya sadar, betapa beruntungnya saya selesai tes tulis langsung diterima dan daftar ulang, gak melalui proses ribet kayak tadi. Dan di malam ini juga, mereka pasti was was dan deg degan karena besok 18 Agustus menjadi penentuan mereka apakah diterima lamaran bidik misinya atau tidak. Saya juga jadi deg degan, hahaha

Di hari kemerdekaan ini, yuk kita banyak bersyukur atas apa yang kita dapatkan selama ini dan berdoa untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga kalian mendapatkan yang terbaik, untuk adek yang “neror” saya lewat Sms, adek yang batalin tiket pulang, adek yang matanya berkaca kaca waktu saya tanyai, adek yang malah curhat padahal gak ada yang tanya, dan adek adek lain yang sekarang mendapatkan Hasil terbaik besok. Semangaaaaat

Menulis dari kos yang sedang direnovasi sambil bersin bersin berdebu.

Vilat Sasax Mandala Putra Paryoko

MERDEKA!!!! (masih jauh)

Dirgahayu 70 tahun Indonesia Merdeka 🙂

Tinggalkan komentar »

26 Mei 2012

Selamat ulang tahun keluarga pertama kampus perjuangan!!!

Saya gak bisa berkata-kata selain mendoakan supaya BASILISK masih tetap ada hingga anak-anak kita lahir :3 (ngebayangin)

Makasih Ilham buat fotonya :3

Lambang Basilisk Putih11334020_10205974533234385_4579006954124348714_o

Tinggalkan komentar »